Dunia fantasi kelam menjadi medan laga bagi para pejuang lintas zaman yang terseret dari kematian. Mereka dipanggil ke dunia asing penuh intrik politik dan perang brutal antara manusia dan ras non-manusia yang berusaha menindas penduduk yang tertindas.
Shimazu Toyohisa, samurai legendaris dari era Sengoku, mendapati dirinya terdampar di dunia ini setelah terluka parah. Bersama dua rekan tak terduga, ia harus beradaptasi dengan kenyataan pahit demi bertahan hidup di tengah pusaran konflik besar.
Ia bertemu dengan Oda Nobunaga, sang ahli strategi licik yang haus akan kekuasaan, serta Nasu no Yoichi yang mahir memanah. Hubungan ketiganya yang kontras menjadi kunci mereka untuk memimpin pemberontakan melawan dominasi tirani yang kejam.
Di sisi lain, sosok misterius bernama Black King menggalang kekuatan kegelapan untuk memusnahkan umat manusia. Konflik ideologi dan taktik perang pun tak terelakkan saat kelompok ini terjepit di antara pilihan moral yang sulit dalam dunia yang begitu kacau.
Puncak ketegangan memuncak saat mereka menyadari bahwa takdir mereka adalah menjadi pion atau pembebas. Dengan pedang dan strategi, mereka menantang sejarah untuk mengubah masa depan dunia yang sedang berada di ambang kehancuran total akibat nafsu jahat.
Berlatar di tengah Perang Satu Tahun yang mencekam, wilayah Thunderbolt Sector menjadi medan tempur mematikan penuh puing sisa koloni. Di sini, dua pihak saling bertukar tembakan di balik gundukan logam, menciptakan neraka ruang angkasa yang sangat sunyi namun mematikan.
Io Fleming adalah pilot Federasi yang sombong sekaligus jenius, ia memandang perang sebagai panggung untuk unjuk gigi. Ketangguhannya berbenturan langsung dengan kegigihan pihak Zeon yang bertahan demi harga diri, menciptakan rivalitas benci tapi rindu.
Di balik garis musuh, Daryl Lorenz memimpin unit Living Dead dengan penuh dedikasi. Sebagai penembak jitu yang kehilangan anggota tubuhnya demi negara, ia harus mengandalkan prostetik canggih dan mesin tempur untuk membalaskan dendam rekan-rekannya.
Konflik antara keduanya melampaui sekadar ideologi politik; ini adalah duel ego antara pria yang terobsesi dengan musik jazz dan prajurit yang setia pada pengorbanan tragis. Mereka terjebak dalam siklus kekerasan yang brutal dan sangat sulit untuk diputus.
Ketegangan memuncak saat mereka saling berburu di dalam badai listrik statis yang konstan. Di antara ledakan mesin yang merobek ruang, mereka mempertanyakan apakah kemenangan layak didapat saat jiwa harus dikorbankan demi sepotong logam peperangan.