Zaman Sengoku bukan cuma soal pedang dan darah, tapi juga tentang estetika yang mematikan. Di balik ambisi para jenderal besar untuk menyatukan Jepang, terdapat dunia rahasia teh dan seni yang justru menjadi medan pertempuran para pria yang sangat ambisius.
Furuta Sasuke terjebak di tengah dilema berat antara kesetiaan kepada tuannya dan hasrat gilanya terhadap benda-benda seni. Dia adalah seorang samurai yang lebih memilih keindahan cangkir teh daripada sekadar kekuasaan politik yang membosankan.
Hubungan intens terjadi saat dia melayani sang penguasa bengis Oda Nobunaga. Di bawah bayang-bayang sang tiran, Sasuke mencoba menyeimbangkan jiwanya yang artistik dengan brutalnya tuntutan perang yang memaksa setiap orang menjadi monster haus darah.
Konflik batin makin meruncing saat dia berinteraksi dengan Sen no Rikyu, sang maestro teh yang memiliki pandangan hidup berbeda. Persaingan filosofis mereka menciptakan ketegangan yang lebih tajam daripada sabetan katana di tengah hiruk-pikuk sejarah.
Keindahan benda antik menjadi simbol status sekaligus cara bertahan hidup di era yang kacau. Apakah obsesi terhadap kesempurnaan seni mampu membawa kedamaian bagi seorang prajurit, atau justru menjadi jalan pintas menuju kehancuran yang sangat nyata?
Dunia bawah tanah yang kelam menjadi panggung bagi kisah thriller psikologis penuh ketegangan ini. Seseorang yang terbangun tanpa ingatan harus terjebak dalam pusaran organisasi pembunuh bayaran internasional yang kejam bernama Inferno yang sangat misterius.
Pemuda yang kemudian diberi nama Zwei ini dipaksa untuk bertahan hidup melalui latihan berat dan pembunuhan. Identitas lamanya telah hilang, digantikan oleh naluri bertahan hidup yang kejam di tengah dunia yang tak mengenal kata belas kasihan.
Di sana, ia bertemu dengan Ein, seorang gadis pembunuh berbakat yang menjadi mentor sekaligus sosok terdekatnya. Hubungan mereka terasa dingin namun rumit, karena keduanya hanyalah alat yang dikendalikan oleh bayang-bayang organisasi besar yang dingin.
Konflik batin terus menghantui saat Cal Devens muncul dan mulai mengganggu tatanan hidup mereka. Pertemuan tak terduga ini memaksa mereka mempertanyakan arti kemanusiaan, loyalitas, dan harga yang harus dibayar demi mendapatkan kebebasan sejati.
Apakah mereka hanya sekadar boneka yang bisa dibuang kapan saja, atau mampu menentukan takdir sendiri? Di balik desingan peluru, pencarian identitas diri menjadi inti perjuangan mereka melawan takdir kelam yang telah dirancang dengan sangat rapi oleh musuh.