Setelah kompetisi ansambel beres, anak-anak klub konsert band SMA Kitauji langsung masang target paling tinggi: bawa pulang medali emas di kompetisi nasional! Buat Kumiko Oumae yang sekarang udah kelas tiga dan menjabat jadi ketua klub, ini adalah kesempatan terakhir dia dan teman-teman seangkatannya sebelum lulus sekolah. Campur aduk antara semangat dan panik, Kumiko terus kepikiran apakah dia beneran mampu memimpin rombongan band yang isinya banyak kepala ini sampai ke puncak.
Di tengah kegalauannya mengatur klub, Kumiko mendadak ketemu sama murid pindahan baru bernama Mayu Kuroe. Cewek satu ini punya kepribadian yang kalem banget, ramah, dan yang paling bikin deg-degan: main instrumen euphonium-nya jago luar biasa! Usut punya usut, Mayu ini mantan anggota band SMA Seira, sekolah elit yang udah langganan masuk nasional. Biarpun Mayu aslinya baik, Kumiko tetep gak bisa bohong kalau dia ngerasa ada perasaan aneh yang mengganjal tiap kali interaksi sama saingan barunya ini.
Begitu para anggota baru mulai berdatangan dan strategi latihan mulai digas, tensi di dalam klub pun otomatis makin memanas. Demi bisa menembus panggung nasional dan ngerebut medali emas, anak-anak Kitauji dipaksa buat belajar apa arti pengorbanan dan kerja keras yang sesungguhnya. Kompetisi musik yang penuh drama dan air mata ini pun dimulai!
Dunia musik yang keras dan penuh ekspektasi menjadi panggung utama bagi drama musikal ini. Di sini, impian sering kali berbenturan dengan kenyataan pahit, menuntut pengorbanan besar serta keberanian untuk tetap bersuara lantang meski dunia mencoba membungkam.
Setelah putus sekolah dan hijrah ke Tokyo seorang diri, Nina Iseri bertekad membuktikan eksistensinya. Pertemuannya dengan Momoka Kawaragi, mantan musisi yang hampir menyerah pada impiannya, memicu percikan emosi yang mengubah nasib mereka berdua.
Keduanya mulai merajut asa lewat musik, berusaha menyatukan visi di tengah perbedaan kepribadian. Subaru Awa, Tomo Ebizuka, dan Rupa pun bergabung, membawa dinamika unik serta konflik batin yang terus menguji kekompakan band mereka.
Setiap nada yang tercipta adalah bentuk pelampiasan rasa frustrasi atas ketidakadilan hidup. Mereka harus menghadapi ego masing-masing, tekanan industri yang kejam, serta bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui langkah mereka di ibu kota besar.
Saat panggung mulai memanggil, mereka dihadapkan pada pilihan sulit antara idealisme dan tuntutan pasar. Mampukah mereka tetap jujur pada suara hati sendiri, atau justru akan hancur tergerus kerasnya industri musik sebelum sempat mencapai puncak kejayaan?