Dunia pasca perang yang hancur perlahan mencoba bangkit dari abu konflik berkepanjangan. Di tengah pemulihan ini, teknologi mesin pengetik mulai dikenal luas, membawa harapan baru bagi mereka yang sulit mengungkapkan perasaan jujur melalui secarik surat tulisan tangan.
Violet Evergarden adalah seorang mantan prajurit muda yang kehilangan tujuan hidup usai pertempuran berakhir. Ia dibesarkan sebagai senjata tanpa emosi, kini harus beradaptasi di lingkungan damai dan mencoba memahami arti kata-kata terakhir sang komandan.
Ditempatkan sebagai Auto Memory Doll, ia ditugaskan menulis surat untuk berbagai klien dengan latar belakang beragam. Di sana, ia bertemu Claudia Hodgins, pria yang membimbingnya agar bisa hidup normal sekaligus mengungkap misteri pesan cinta masa lalunya.
Gadis ini berjuang keras memahami kompleksitas hati manusia yang asing baginya. Setiap surat yang ia tulis menjadi cermin bagi jiwanya sendiri, memaksanya menghadapi trauma mendalam serta rasa kehilangan yang selama ini terkunci rapat di balik tatapan matanya.
Apakah mungkin bagi seseorang yang hanya mengenal medan perang untuk mengerti makna kasih sayang sejati? Perjalanan emosional yang menyayat hati ini akan menguji batas kemanusiaan, sekaligus mencari kehangatan di tengah luka sejarah yang belum sepenuhnya kering.
Di sebuah dunia futuristik yang sunyi, kehidupan manusia telah punah. Sebagai gantinya, lahir makhluk abadi berwujud batu permata yang rapuh. Mereka harus berjuang melindungi diri dari serangan penghuni bulan yang ingin memanen tubuh mereka sebagai perhiasan.
Phosphophyllite adalah permata termuda yang sangat lemah dan tidak berguna dalam pertempuran. Dengan tubuh yang mudah retak, ia merasa putus asa karena tidak memiliki peran berarti selain hanya menjadi beban bagi rekan-rekannya yang lain di pulau itu.
Ia mendambakan sosok kuat seperti Cinnabar, permata kesepian yang terasing karena racun tubuhnya. Meskipun berbeda nasib, mereka berbagi kesedihan mendalam atas keterbatasan fisik yang membuat mereka sering merasa terbuang dan tidak berharga di mata kelompok.
Seiring waktu, berbagai kehilangan mengubah kepribadian mereka secara drastis. Pertemuan dengan mentor bijak bernama Adamantine justru memicu banyak pertanyaan tak terjawab tentang eksistensi, pengorbanan, dan rahasia kelam di balik sejarah dunia mereka.
Evolusi emosional ini perlahan mengungkap sisi kelam dari keabadian. Saat konflik dengan musuh kian intens, mereka dipaksa menghadapi trauma serta perubahan jati diri yang menyakitkan, mempertanyakan arti hidup bagi mahluk yang sejatinya tak bisa mati.