Dunia telah runtuh, menyisakan reruntuhan beton yang membeku dalam kesunyian yang mencekam. Peradaban manusia hanyalah kenangan pahit yang terkubur di bawah lapisan salju tak berujung. Di tengah kehancuran total ini, sisa-sisa mesin perang menjadi satu-satunya petunjuk.
Dua gadis pengelana, Chito yang kutu buku dan tenang, serta Yuuri yang periang namun sangat impulsif, terus melaju dengan kendaraan amfibi mereka. Mereka menyusuri kota-kota mati yang sunyi tanpa tujuan pasti selain sekadar bertahan hidup setiap harinya.
Keduanya memiliki kepribadian yang bertolak belakang, menciptakan dinamika perjalanan yang unik. Chito sering merasa cemas memikirkan masa depan, sementara Yuuri lebih fokus pada rasa lapar. Persahabatan mereka menjadi satu-satunya cahaya di tengah kegelapan dunia yang dingin.
Dalam pengembaraan melintasi struktur raksasa yang misterius, mereka berhadapan dengan rasa sepi yang menghantui. Kelangkaan sumber daya memaksa mereka untuk terus bergerak, mencari sisa makanan dan bahan bakar demi melanjutkan eksistensi mereka di dunia yang sekarat.
Akankah mereka menemukan jawaban di balik reruntuhan megah yang kini sunyi? Menghadapi kehampaan, mereka belajar bahwa meskipun dunia sedang menuju ajal, kebahagiaan kecil bisa ditemukan dalam kebersamaan yang tulus dan rasa syukur atas setiap napas yang tersisa.