Di sebuah dunia futuristik yang sunyi, kehidupan manusia telah punah. Sebagai gantinya, lahir makhluk abadi berwujud batu permata yang rapuh. Mereka harus berjuang melindungi diri dari serangan penghuni bulan yang ingin memanen tubuh mereka sebagai perhiasan.
Phosphophyllite adalah permata termuda yang sangat lemah dan tidak berguna dalam pertempuran. Dengan tubuh yang mudah retak, ia merasa putus asa karena tidak memiliki peran berarti selain hanya menjadi beban bagi rekan-rekannya yang lain di pulau itu.
Ia mendambakan sosok kuat seperti Cinnabar, permata kesepian yang terasing karena racun tubuhnya. Meskipun berbeda nasib, mereka berbagi kesedihan mendalam atas keterbatasan fisik yang membuat mereka sering merasa terbuang dan tidak berharga di mata kelompok.
Seiring waktu, berbagai kehilangan mengubah kepribadian mereka secara drastis. Pertemuan dengan mentor bijak bernama Adamantine justru memicu banyak pertanyaan tak terjawab tentang eksistensi, pengorbanan, dan rahasia kelam di balik sejarah dunia mereka.
Evolusi emosional ini perlahan mengungkap sisi kelam dari keabadian. Saat konflik dengan musuh kian intens, mereka dipaksa menghadapi trauma serta perubahan jati diri yang menyakitkan, mempertanyakan arti hidup bagi mahluk yang sejatinya tak bisa mati.
Dunia dansa kompetitif yang glamor namun keras menjadi panggung utama dalam kisah ini. Berawal dari keputusasaan akan masa depan, seorang remaja mendapati dirinya terperangkap dalam ritme elegan yang memikat. Ketegangan fisik dan emosional pun mulai membakar.
Tatara Fujita awalnya hanyalah siswa pemalu yang tidak memiliki tujuan hidup. Hidupnya berubah drastis saat ia diselamatkan oleh seorang penari profesional dari perundung. Momen singkat itu memicu api semangat yang selama ini terkubur dalam dirinya yang pasif.
Pertemuan dengan Kiyoharu Hyodo yang jenius di lantai dansa memicu rivalitas sengit. Sementara itu, Shizuku Hanaoka hadir sebagai rekan yang anggun sekaligus sosok pendukung bagi sang protagonis untuk terus berkembang melampaui batas kemampuan fisik.
Chinatsu Hiyama kemudian muncul membawa dinamika baru yang penuh percikan konflik dan emosi. Kehadirannya menantang ego serta cara mereka berkomunikasi lewat gerakan tubuh, memaksa setiap karakter untuk jujur pada perasaan mereka sendiri di atas lantai dansa.
Langkah kaki yang tersinkronisasi menjadi cerminan perjuangan mereka meraih kesempurnaan. Di tengah sorotan lampu dan detak jantung yang memacu, mereka belajar bahwa dansa bukan sekadar gerakan, melainkan cara untuk mengungkapkan jati diri yang terpendam jauh dalam.