Musim kedua ini membawa kita kembali ke kehidupan penuh warna dan pahit manisnya masa muda para mahasiswa seni. Di tengah hiruk-pikuk kampus, mereka terus berjuang mengejar impian sambil perlahan menghadapi kenyataan pahit bahwa masa depan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Perasaan rumit yang terpendam mulai mencapai titik didih. Yuta Takemoto kini mencoba mencari jati dirinya yang hilang, sementara hubungan mereka yang tadinya terasa tenang perlahan mulai retak oleh gejolak cinta sepihak yang kian tak tertahankan lagi.
Hagumi Hanamoto yang jenius namun tertutup terus bergelut dengan keterbatasan fisiknya di tengah tuntutan dunia seni yang kejam. Kehadirannya tetap menjadi magnet bagi Shinobu Morita yang misterius, sosok jenius eksentrik dengan beban masa lalu berat.
Di sisi lain, Takumi Mayama masih terus terjebak dalam obsesi cintanya yang tak berbalas, sementara Ayumi Yamada harus berusaha keras untuk tegar menyembunyikan luka hatinya demi tetap bisa berada di samping orang yang diam-diam sangat ia cintai.
Persahabatan mereka diuji oleh waktu dan ambisi yang saling berbenturan. Saat batas antara cinta dan pengabdian semakin kabur, mereka harus berani menghadapi keputusan sulit demi menemukan arti kebahagiaan sejati sebelum masa muda benar-benar berakhir.
Edo kini dikuasai oleh Amanto, alien angkuh yang melarang penggunaan pedang di ruang publik. Di tengah kekacauan futuristik yang absurd ini, kehidupan sehari-hari menjadi ladang komedi satire yang penuh tawa sekaligus aksi laga yang sangat mendebarkan hati.
Gintoki Sakata, seorang samurai malas dengan rambut perak, mengelola Yorozuya bersama Shinpachi yang lugu dan Kagura yang bertenaga super. Mereka sering terlibat masalah aneh demi uang, sambil menghadapi masa lalu tragis yang kelam.
Ketegangan politik meningkat saat kelompok pemberontak dan pemerintah kolonial saling beradu. Para tokoh harus berjuang mempertahankan harga diri samurai di dunia yang modern, membuktikan bahwa persahabatan sejati tetap abadi meski zaman terus berubah.