Program eksperimen sosial ReLIFE kini memasuki babak penentuan yang emosional. Ketegangan memuncak saat rahasia masa lalu mulai terkuak, menuntut para subjek untuk segera menentukan pilihan hidup sebelum ingatan tentang masa sekolah mereka benar-benar dihapus selamanya.
Arata Kaizaki harus berhadapan dengan konsekuensi dari ikatan mendalam yang ia jalin di sekolah. Sebagai pria dewasa yang terjebak dalam tubuh remaja, ia kini merasakan dilema batin yang berat antara tanggung jawab eksperimen dan perasaan tulus di hatinya.
Hubungan intens antara dirinya dan Chizuru Hishiro semakin berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar teman satu kelas. Namun, kenyataan pahit bahwa keberadaan mereka akan segera terlupakan oleh teman-teman lain menjadi duri yang terus menusuk perasaan mereka.
Di sisi lain, Ryo Yoake sebagai pengawas program mulai meragukan prosedur yang ada karena melihat perkembangan emosional yang melampaui batas prediksi. Dinamika antara pengawas dan subjek ini menciptakan konflik moral yang mengguncang stabilitas rencana besar tersebut.
Menghadapi perpisahan yang tak terelakkan, mereka harus berjuang mempertahankan kenangan berharga sebelum batas waktu berakhir. Inilah kisah tentang arti sebuah kesempatan kedua, pendewasaan diri, dan keberanian untuk mencintai meski harus menghadapi penghapusan memori.
Hidup buntu di usia dewasa muda memang menyakitkan. Arata Kaizaki terjebak dalam siklus pengangguran yang memalukan setelah gagal mempertahankan pekerjaannya. Terpuruk dalam depresi, ia merasa hidupnya sudah tamat hingga sebuah kesempatan unik datang mengetuk pintu.
Seorang pria misterius bernama Ryou Yoake menawarkan pil eksperimental yang bisa mengubah fisik pria berusia dua puluh tujuh tahun itu kembali menjadi remaja. Ini adalah proyek rahasia untuk memperbaiki kepribadiannya yang kacau lewat lingkungan sekolah.
Kembali ke bangku SMA, ia bertemu dengan Chizuru Hishiro, seorang siswi jenius yang canggung secara sosial dan sulit bergaul. Interaksi canggung di antara mereka perlahan memicu perubahan besar bagi pandangan hidup sang protagonis yang kian meluap.
Konflik batin muncul saat ia harus merahasiakan jati dirinya. Menjalani hari-hari sekolah yang penuh drama persahabatan dan cinta monyet, ia mulai menyadari bahwa masalah masa lalunya belum selesai dan terus membayangi setiap keputusan yang ia buat sekarang.
Apakah kesempatan kedua ini mampu menyembuhkan luka batinnya yang dalam? Di balik tawa dan ujian sekolah, ia harus menghadapi kenyataan pahit tentang pendewasaan, penyesalan, dan arti sesungguhnya dari sebuah perubahan hidup yang benar-benar bermakna.