Dunia bawah tanah yang kelam menjadi panggung bagi kisah thriller psikologis penuh ketegangan ini. Seseorang yang terbangun tanpa ingatan harus terjebak dalam pusaran organisasi pembunuh bayaran internasional yang kejam bernama Inferno yang sangat misterius.
Pemuda yang kemudian diberi nama Zwei ini dipaksa untuk bertahan hidup melalui latihan berat dan pembunuhan. Identitas lamanya telah hilang, digantikan oleh naluri bertahan hidup yang kejam di tengah dunia yang tak mengenal kata belas kasihan.
Di sana, ia bertemu dengan Ein, seorang gadis pembunuh berbakat yang menjadi mentor sekaligus sosok terdekatnya. Hubungan mereka terasa dingin namun rumit, karena keduanya hanyalah alat yang dikendalikan oleh bayang-bayang organisasi besar yang dingin.
Konflik batin terus menghantui saat Cal Devens muncul dan mulai mengganggu tatanan hidup mereka. Pertemuan tak terduga ini memaksa mereka mempertanyakan arti kemanusiaan, loyalitas, dan harga yang harus dibayar demi mendapatkan kebebasan sejati.
Apakah mereka hanya sekadar boneka yang bisa dibuang kapan saja, atau mampu menentukan takdir sendiri? Di balik desingan peluru, pencarian identitas diri menjadi inti perjuangan mereka melawan takdir kelam yang telah dirancang dengan sangat rapi oleh musuh.
Hidup di apartemen Hidamari membawa nuansa kehidupan sehari-hari yang hangat namun penuh warna. Genre slice-of-life ini mengajak kita menyelami keseharian para siswi seni yang berjuang mengejar mimpi sambil menghadapi tantangan kecil di sekolah.
Yuno sebagai protagonis utama yang polos harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Bersama sahabat karibnya, Miyako yang energik, mereka sering terlibat momen konyol yang mencairkan suasana tegang di sela-sela tugas seni yang padat.
Kehadiran Hiro yang keibuan dan Sae yang pendiam namun sangat perhatian memberikan rasa nyaman bagi para penghuni. Hubungan mereka bukan sekadar tetangga, melainkan keluarga yang saling mendukung saat mereka merasa lelah atau sedang buntu.
Konflik muncul ketika tekanan akademik dan keraguan diri mulai menghantui pikiran. Setiap karakter memiliki ambisi artistik berbeda, memaksa mereka untuk terus berkembang meski seringkali merasa tidak percaya diri dengan bakat yang mereka miliki saat ini.
Di balik tawa dan obrolan santai, tersimpan makna mendalam tentang kedewasaan serta arti persahabatan sejati. Mereka belajar bahwa setiap hari adalah kanvas baru yang siap diwarnai dengan kenangan indah, canda tawa, dan sedikit air mata kebahagiaan.