Dunia fantasi abad pertengahan yang keras bukanlah tempat bagi pecinta buku. Setelah bereinkarnasi sebagai gadis kecil yang lemah, perjuangan untuk membaca kembali dimulai. Kini, misi mulia untuk mencetak buku sendiri harus menghadapi tantangan sistem kasta yang sangat kaku dan berbahaya.
Myne adalah gadis jenius dengan ingatan masa lalu yang ambisius. Tekadnya yang keras kepala sering kali bertabrakan dengan realitas kejam di sekitarnya. Tanpa dukungan orang yang tepat, impian sederhananya untuk sekadar membaca justru membawanya ke dalam konflik politik.
Kehadiran Ferdinand, seorang pendeta tinggi yang dingin dan penuh curiga, menjadi titik balik krusial. Ia harus menyeimbangkan antara mengungkap rahasia sihir gadis itu dan menjaganya agar tetap aman dari intrik gereja yang gelap serta haus akan kekuasaan kaum ningrat.
Sementara itu, Tuuli tetap menjadi pendukung emosional yang tulus bagi kakaknya. Di tengah kemiskinan dan keterbatasan fisik, ikatan keluarga ini menjadi jangkar bagi sang protagonis untuk bertahan hidup sembari terus bereksperimen dengan inovasi teknologi sederhana.
Mampukah ambisi besar ini terwujud di tengah dunia yang membenci perubahan? Puncak konflik semakin memanas saat kekuatan misterius mulai mengincar potensi unik sang gadis. Inilah kisah perjuangan literasi yang mempertaruhkan nyawa demi secercah pengetahuan berharga.
Dunia fantasi abad pertengahan yang kejam menanti seorang kutu buku yang tiba-tiba bereinkarnasi. Hidup di tubuh gadis kecil yang lemah membuat akses terhadap literatur menjadi kemewahan langka yang nyaris mustahil digapai di era kelangkaan kertas ini.
Sosok Myne adalah gadis cerdas yang terobsesi dengan buku namun terjebak dalam kemiskinan. Kondisi fisik yang rapuh justru memicu tekad baja dirinya untuk merombak tatanan sosial demi memuaskan dahaga intelektual yang tak pernah bisa padam itu.
Demi mewujudkan mimpinya, ia menjalin hubungan dengan Lutz, seorang teman masa kecil yang setia membantu proses pembuatan kertas. Persahabatan mereka diuji saat ambisi besar gadis ini mulai berbenturan dengan kenyataan pahit kehidupan rakyat jelata.
Konflik memuncak ketika Ferdinand, seorang bangsawan berpengaruh, mulai mencium potensi bahaya di balik ide-ide revolusioner gadis kecil tersebut. Pertemuan mereka menciptakan dinamika rumit antara rasa curiga, tuntutan politik, hingga sebuah ikatan mentor.
Perjuangan menjadi pustakawan di dunia yang tak mengenal literasi menuntut pengorbanan besar. Dengan segala rintangan yang ada, ia terus melangkah meski harus mempertaruhkan nyawanya sendiri, demi sebuah buku yang menjadi tujuan utama hidupnya yang baru ini.
Menjadi siswa SMA bukanlah perkara mudah, apalagi di sekolah khusus pria yang penuh dengan kekacauan konyol. Tanpa kehadiran siswi untuk dipuja, kehidupan sehari-hari berubah menjadi ajang eksperimen gila dan obrolan random yang benar-benar absurd bagi remaja laki-laki.
Tokoh utamanya, Tadakuni, harus bertahan menghadapi ulah teman-temannya yang seringkali tidak masuk akal. Meski ia tampak paling normal, kehadiran Hidenori dengan ide-ide anehnya selalu berhasil menjebaknya ke dalam situasi yang sangat memalukan.
Di sisi lain, ada Yoshitake yang selalu antusias mengikuti kebodohan kawan-kawannya. Ketiganya sering terjebak dalam delusi masa remaja, mulai dari membayangkan pertarungan epik melawan robot hingga mencoba memakai pakaian dalam wanita demi alasan riset konyol.
Interaksi mereka dengan siswa lain, seperti Motoharu yang sering menjadi korban kejahilan, menambah lapisan komedi yang luar biasa. Ketegangan kecil sering terjadi saat mereka mencoba menutupi rasa malu di depan para siswi dari sekolah tetangga yang sangat cantik.
Masalah sepele pun bisa meledak menjadi tragedi komedi yang mengocok perut setiap harinya. Anime ini dengan jenius menangkap esensi masa muda yang membingungkan namun penuh tawa, membuktikan bahwa hidup remaja pria memang sesederhana dan sebodoh itu saja.