Dunia vampir yang gelap kembali mencekam dalam sekuel penuh intrik misterius ini. Di tengah kota Paris abad ke-19 yang mempesona namun berbahaya, kutukan misterius terus mengancam kelangsungan hidup kaum vampir, memicu ketegangan antara manusia dan makhluk malam.
Sang manusia biasa, Vanitas, memegang grimoire legendaris untuk menyembuhkan mereka yang terinfeksi kutukan. Namun, niat aslinya tetap menjadi teka-teki yang menyelimuti setiap tindakannya, membuat rekan perjalanannya merasa semakin waspada dan curiga.
Munculnya musuh baru yang tak terduga semakin memperkeruh situasi, menguji loyalitas dan kepercayaan di antara para karakter utama. Keinginan mereka untuk mengungkap kebenaran di balik kutukan tersebut pun menuntut pengorbanan besar yang mungkin tidak bisa mereka tanggung.
Menjelang puncak konflik yang semakin panas, setiap rahasia perlahan mulai tersingkap di balik topeng yang mereka kenakan. Tema tentang dendam, kasih sayang, dan kutukan pun saling berkelindan, menentukan nasib dunia yang berada di ambang kehancuran total nan tragis.
Di tengah megahnya era keemasan kekaisaran Jepang, intrik politik yang kelam mulai membayangi kejayaan klan penguasa. Anime bergenre historis dengan sentuhan supranatural ini menggambarkan keruntuhan klan yang arogan, menyajikan narasi penuh tragedi dan kesedihan mendalam.
Pertemuan tak terduga terjadi saat Biwa, seorang gadis pengembara dengan mata yang mampu melihat masa depan, terjebak di tengah kekacauan politik istana. Ia bertemu dengan Taira no Shigemori, sosok pemimpin bijak yang berusaha menjaga keadilan di keluarganya.
Hubungan keduanya berkembang secara unik, di mana Shigemori menjadi satu-satunya orang yang memercayai penglihatan Biwa. Shigemori berjuang keras untuk meredam ambisi liar sang ayah, Taira no Kiyomori, yang semakin haus akan kekuasaan demi ambisi pribadi yang buta.
Konflik batin terus menguji kesetiaan dan nurani setiap karakter saat klan Heike mulai kehilangan kendali. Kepribadian Shigemori yang tenang berbenturan dengan karakter Kiyomori yang kejam, menciptakan ketegangan hebat yang mengancam stabilitas seluruh negeri Jepang saat itu.
Bayang-bayang kehancuran kian nyata, memaksa mereka menghadapi takdir yang kejam. Tema tentang kefanaan hidup, harga sebuah kekuasaan, dan takdir yang tak terelakkan menjadi inti drama, saat sejarah besar tertulis melalui air mata mereka yang terjepit dalam perang.