Dunia berada di ambang kehancuran karena ancaman misterius yang disebut Vertex. Di balik kehidupan sekolah yang tampak normal, para gadis terpilih harus memikul beban berat untuk melindungi umat manusia dengan kekuatan sihir sebagai pahlawan yang ditunjuk secara khusus.
Siswi kelas enam SD bernama Washio Sumi menjalani keseharian penuh tanggung jawab. Bersama rekan setimnya yang memiliki kepribadian kontras, ia berusaha menjaga kedamaian dunia sambil mencoba menyeimbangkan kewajiban sebagai pahlawan dengan kehidupan masa kecilnya.
Sosok Nogi Sonoko membawa keceriaan di tengah ketegangan pertempuran, sementara Minowa Gin menjadi pilar kekuatan fisik yang berani. Ketiganya menjalin ikatan persahabatan yang erat, saling mendukung satu sama lain saat menghadapi musuh-musuh raksasa yang mengerikan.
Konflik batin mulai muncul ketika realita peperangan menuntut pengorbanan besar yang tak terbayangkan. Mereka harus berhadapan dengan bahaya yang mengancam nyawa, memaksa para gadis belia ini untuk beranjak dewasa lebih cepat daripada yang seharusnya dalam dunia yang kejam.
Di tengah badai takdir yang menguji keteguhan hati, mereka berjuang mempertahankan harapan. Persahabatan mereka akan menjadi senjata terkuat saat menghadapi takdir kelam, membuktikan bahwa keberanian sejati seringkali lahir dari keterbatasan dan rasa sayang antar sahabat.
Di sebuah dunia futuristik yang sunyi, kehidupan manusia telah punah. Sebagai gantinya, lahir makhluk abadi berwujud batu permata yang rapuh. Mereka harus berjuang melindungi diri dari serangan penghuni bulan yang ingin memanen tubuh mereka sebagai perhiasan.
Phosphophyllite adalah permata termuda yang sangat lemah dan tidak berguna dalam pertempuran. Dengan tubuh yang mudah retak, ia merasa putus asa karena tidak memiliki peran berarti selain hanya menjadi beban bagi rekan-rekannya yang lain di pulau itu.
Ia mendambakan sosok kuat seperti Cinnabar, permata kesepian yang terasing karena racun tubuhnya. Meskipun berbeda nasib, mereka berbagi kesedihan mendalam atas keterbatasan fisik yang membuat mereka sering merasa terbuang dan tidak berharga di mata kelompok.
Seiring waktu, berbagai kehilangan mengubah kepribadian mereka secara drastis. Pertemuan dengan mentor bijak bernama Adamantine justru memicu banyak pertanyaan tak terjawab tentang eksistensi, pengorbanan, dan rahasia kelam di balik sejarah dunia mereka.
Evolusi emosional ini perlahan mengungkap sisi kelam dari keabadian. Saat konflik dengan musuh kian intens, mereka dipaksa menghadapi trauma serta perubahan jati diri yang menyakitkan, mempertanyakan arti hidup bagi mahluk yang sejatinya tak bisa mati.
Dunia telah runtuh, menyisakan reruntuhan beton yang membeku dalam kesunyian yang mencekam. Peradaban manusia hanyalah kenangan pahit yang terkubur di bawah lapisan salju tak berujung. Di tengah kehancuran total ini, sisa-sisa mesin perang menjadi satu-satunya petunjuk.
Dua gadis pengelana, Chito yang kutu buku dan tenang, serta Yuuri yang periang namun sangat impulsif, terus melaju dengan kendaraan amfibi mereka. Mereka menyusuri kota-kota mati yang sunyi tanpa tujuan pasti selain sekadar bertahan hidup setiap harinya.
Keduanya memiliki kepribadian yang bertolak belakang, menciptakan dinamika perjalanan yang unik. Chito sering merasa cemas memikirkan masa depan, sementara Yuuri lebih fokus pada rasa lapar. Persahabatan mereka menjadi satu-satunya cahaya di tengah kegelapan dunia yang dingin.
Dalam pengembaraan melintasi struktur raksasa yang misterius, mereka berhadapan dengan rasa sepi yang menghantui. Kelangkaan sumber daya memaksa mereka untuk terus bergerak, mencari sisa makanan dan bahan bakar demi melanjutkan eksistensi mereka di dunia yang sekarat.
Akankah mereka menemukan jawaban di balik reruntuhan megah yang kini sunyi? Menghadapi kehampaan, mereka belajar bahwa meskipun dunia sedang menuju ajal, kebahagiaan kecil bisa ditemukan dalam kebersamaan yang tulus dan rasa syukur atas setiap napas yang tersisa.