Meskipun statusnya sekarang udah jadi mahasiswa dengan masa depan yang cerah dan terjamin, Natsuki Haibara masih sering banget galau nyeselin masa-masa SMA-nya dulu. Pas SMA, Haibara ini adalah cowok yang kuper, insekyur, punya kecemasan sosial, plus berbadan gemuk. Semua usahanya buat sok asik dan nyari temen pas zaman itu berakhir gagal total dan zonk. Sampai suatu malam, Haibara berdoa khusyuk banget pengen dapet kesempatan buat ngulang masa remajanya—dan ajaibnya, pas bangun besok pagi, dia beneran time travel balik ke masa lalu sebelum hari pertama masuk SMA!
Gak mau nyia-nyiain kesempatan emas ini, Haibara langsung gerak cepat memanfaatkan waktu satu bulan sebelum masuk sekolah buat diet ketat dan olahraga biar badannya jadi proporsional. Pas hari pertama sekolah tiba, transformasi fisiknya sukses bikin impresi pertama yang bagus banget, sampai-sampai dia bisa langsung temenan sama sirkel anak-anak populer, termasuk Hikari Hoshimiya—cewek yang jadi cinta monyetnya dulu. Pas ketemu lagi, Haibara sadar kalau perasaannya ke Hoshimiya ternyata gak berubah sama sekali, makanya dia langsung pasang target baru di kehidupan keduanya ini: harus bisa jadian sama Hoshimiya!
Sambil asyik menikmati waktu main bareng Hoshimiya dan temen-temen barunya, Haibara juga mulai ngebakar lagi semangat masa mudanya dengan ikutan klub basket dan bahkan dapet kerjaan sampingan di kafe lokal. Tapi, punya sirkel pertemanan baru ternyata juga bawa drama dan masalah baru yang belum pernah dia hadapi di lini masa sebelumnya. Haibara pun harus putar otak buat nyelesaiin segala rintangan itu demi bisa menikmati masa remaja indahnya secara maksimal!
Dari luar, anak SMA bernama Koyuki "Koyun" Hikawa kelihatan kayak cewek yang dingin, galak, dan susah banget buat dideketin sama murid-murid lain. Padahal aslinya ngenes banget, Koyun itu cuma cewek insekyur yang hobi overthinking gara-gara punya pengalaman buruk bin canggung pas zaman SMP dulu. Tapi, takdirnya mulai berubah pas dia gak sengaja kenalan sama dua cowok di sekolahnya, yaitu Minato Amamiya dan Youta Hino.
Sama kayak temen deket Koyun yang bernama Miki Azumi, dua cowok baru ini sama sekali gak takut buat nyamperin Koyun. Mereka bisa ngelihat sifat asli Koyun yang sebenernya baik banget di balik tampang "seramnya" itu. Meskipun Koyun mulai enjoy main bareng sirkel barunya ini, dia diam-diam malah perang batin; dia bimbang antara menikmati kebahagiaan barunya atau nahan diri karena takut bakal terlalu bergantung dan baper sama orang lain.
Di sisi lain, ternyata setiap orang di sirkel pertemanan mereka ini juga punya beban pikiran dan masalahnya masing-masing yang dipendam sendiri. Tapi seiring berjalannya waktu, lewat momen-momen seru khas masa SMA yang mereka laluin bareng, Koyun dan teman-temannya pelan-pelan mulai keluar dari zona nyaman mereka demi bisa menikmati masa muda dengan maksimal!
Di London awal tahun 1900-an, Lili Ichijouin, seorang mahasiswi pertukaran pelajar asal Jepang, datang ke Inggris buat masuk ke Saint Thomas Art Academy yang bergengsi. Dia punya tekad bulat pengen jadi pelukis, tapi bebannya berat banget: orang tuanya kasih syarat kalau dia harus jadi yang terbaik di kelas dalam waktu enam bulan, kalau nggak, dia harus pulang.
Semangat Lili makin membara pas dia ketemu Kit Church, mahasiswa dari kalangan bangsawan yang jago banget melukis tapi pembawaannya cuek. Meskipun Kit fokus banget sama seninya, ketulusan dan kegigihan Lili pelan-pelan bikin dia berubah. Mereka berdua sebenarnya nggak punya banyak kesamaan selain kecintaan mereka sama seni, tapi hubungan mereka akhirnya jadi pusat perhatian di akademi.
Dunia sekolah menengah yang penuh warna kadang terasa seperti teka-teki rumit bagi mereka yang tidak populer. Genre komedi romantis ini membawa kita menyelami kehidupan remaja yang penuh dengan dinamika sosial, rasa cemas, hingga harapan manis di masa muda.
Suzuki adalah gadis ceria yang populer namun sering merasa harus mengikuti arus pergaulan. Kehidupannya berubah drastis saat ia menaruh hati pada sosok yang sangat kontras dengannya, yakni seorang pemuda pendiam yang tampak tak peduli dengan dunia.
Di sisi lain ada Tani, cowok penyendiri yang lebih suka menghabiskan waktu sendirian. Meski memiliki kepribadian bagai bumi dan langit, ketertarikan di antara keduanya mulai tumbuh dengan cara yang sangat canggung namun manis untuk terus diikuti.
Hubungan mereka penuh dengan hambatan komunikasi dan rasa tidak percaya diri yang kental. Apakah perbedaan karakter yang sangat ekstrem ini bisa disatukan, atau justru menjadi tembok besar yang membuat mereka sulit untuk saling memahami perasaan masing-masing?
Konflik batin akan terus menguji keberanian mereka untuk jujur pada diri sendiri. Dalam perjalanan yang penuh tawa dan rona merah ini, keduanya belajar bahwa mencintai seseorang yang berbeda bukanlah sebuah kutukan, melainkan sebuah petualangan hati baru.