Tahun 2199, umat manusia hampir musnah akibat radiasi bom meteor alien Gamilas. Sisa populasi bersembunyi di bawah tanah, menanti ajal. Harapan terakhir muncul dari planet Iscander yang menawarkan teknologi pemulihan bumi melalui sebuah misi nekat melintasi galaksi.
Susumu Kodai, seorang perwira muda yang emosional dan penuh dendam, bergabung dalam kru kapal legendaris Yamato. Ia berjuang mengatasi trauma masa lalunya sambil belajar arti kepemimpinan di bawah komando kapten veteran yang sangat bijaksana, Juzo Okita.
Hubungan berkembang saat Yuki Mori, operator radar yang tenang, mulai meruntuhkan dinding pertahanan emosional sang protagonis. Mereka harus bekerja sama meski dibayangi ancaman konstan dari musuh yang mematikan dan tekanan waktu untuk menyelamatkan masa depan.
Persaingan ideologi muncul ketika Dessler, pemimpin Gamilas yang karismatik namun kejam, terus memburu Yamato. Konflik tidak hanya terjadi di ruang hampa yang dingin, tetapi juga di dalam kapal, menguji loyalitas kru terhadap perintah dan nurani mereka sendiri.
Misi ini bukan sekadar perjalanan panjang, melainkan ujian kemanusiaan di tengah kehancuran total. Dengan sisa waktu yang terus berdetak, setiap kru harus mengorbankan segalanya untuk menembus garis depan demi memastikan kehidupan tetap ada di planet biru.
Berlatar di Nagasaki tahun 1966, kehidupan sekolah yang membosankan berubah drastis saat musik jazz mulai berdentum. Drama musikal penuh nostalgia ini mengeksplorasi gejolak masa remaja, persahabatan tak terduga, dan pencarian jati diri di balik denting piano.
Siswa pindahan yang kutu buku, Kaoru Nishimi, merasa terasing di lingkungan baru. Namun, pertemuannya dengan sosok berandal yang ditakuti, Sentaro Kawabuchi, mengubah perspektifnya. Mereka menemukan kesamaan lewat melodi yang menyatukan jiwa.
Keduanya kemudian bertemu dengan Ritsuko Mukae, gadis ceria yang menjadi jembatan bagi mereka berdua. Hubungan segitiga yang rumit pun perlahan muncul, menguji kesetiaan serta perasaan terpendam di antara ketiganya di tengah riuhnya suasana masa muda.
Konflik batin semakin memuncak ketika masa lalu dan tanggung jawab keluarga mulai membayangi ambisi pribadi mereka. Musik jazz bukan lagi sekadar hobi, melainkan pelarian emosional yang menyakitkan sekaligus membebaskan bagi mereka saat menghadapi kerasnya kenyataan hidup.
Seiring irama drum dan piano yang saling bersahutan, mereka belajar tentang arti kedewasaan. Melalui nada-nada emosional, persahabatan mereka diuji oleh waktu, cinta, dan impian, membentuk melodi indah yang akan terus membekas dalam ingatan selamanya di sekolah.