Jepang sedang berada di ambang kehancuran akibat Perang Dunia II yang kejam. Langit yang seharusnya biru kini tertutup asap hitam dari bom-bom yang dijatuhkan musuh. Di tengah kekacauan tersebut, kelangsungan hidup menjadi satu-satunya tujuan utama.
Seita harus memikul tanggung jawab besar sebagai kakak untuk melindungi adiknya, Setsuko. Mereka berdua terpaksa hidup mandiri setelah rumah hancur dan orang tua mereka tidak ada lagi di sisi mereka untuk memberikan perlindungan.
Keduanya mencoba bertahan hidup di tengah kerasnya dunia yang tidak lagi ramah. Kakak beradik ini mencari tempat berlindung di sebuah gua, mencoba menciptakan kehidupan sederhana dengan memanfaatkan alam, meskipun bayang-bayang lapar terus menghantui.
Hubungan antara dua saudara ini sangat emosional dan penuh kasih sayang. Seita berjuang keras menjaga senyum adiknya meski situasi kian mencekik. Konflik batin dan realita pahit menjadi ujian berat bagi mereka untuk terus melangkah maju setiap hari.
Cahaya kunang-kunang di malam hari menjadi simbol harapan di tengah kegelapan perang. Mereka terus berusaha bertahan meski persediaan kian menipis. Kisah pilu tentang perjuangan, kasih sayang, dan kehilangan ini akan menguras air mata setiap penonton.
Kebuntuan selama 150 tahun antara dua kekuatan besar antariksa, Kekaisaran Galaksi dan Aliansi Planet Bebas, akhirnya pecah saat muncul pemimpin generasi baru: si jenius militer yang idealis, Reinhard von Lohengramm, dan sejarawan pendiam dari pihak Aliansi, Yang Wenli.
Sambil merintis karier di Kekaisaran bareng sahabat masa kecilnya, Siegfried Kircheis, Reinhard nggak cuma harus perang, tapi juga mesti ngelawan sisa-sisa Dinasti Goldenbaum yang bobrok demi bebasin kakaknya dari cengkeraman Kaiser dan menyatukan umat manusia di bawah satu pemimpin yang tulus.
Di sisi lain galaksi, Yang—yang teguh banget sama nilai demokrasi—harus tetap konsisten sama prinsipnya meski Aliansi lagi terpuruk, sambil nunjukin ke muridnya, Julian Mintz, kalau otokrasi itu bukan jalan keluarnya. Saat ideologi mereka bentrok di tengah banyaknya korban perang, dua ahli strategi ini harus mikir lagi, sebenarnya apa sih alasan di balik pertarungan mereka?