SMA Seika yang dulunya sekolah khusus pria kini berubah menjadi sekolah campuran, namun situasinya masih kacau. Kehadiran siswi baru membuat suasana sekolah jadi penuh dengan kenakalan, menuntut seseorang yang tegas untuk bisa mengubah citra sekolah ini dengan disiplin ketat.
Sosok Misaki Ayuzawa muncul sebagai ketua OSIS wanita pertama yang bertekad menegakkan keadilan. Ia sangat galak dan membenci perilaku laki-laki sembarangan, berusaha keras agar para siswi merasa aman dan nyaman belajar di lingkungan yang maskulin itu.
Rahasia besar disimpan rapat olehnya karena ia bekerja paruh waktu di sebuah kafe pelayan demi membantu ekonomi keluarga. Namun, hidupnya berubah drastis saat cowok paling populer di sekolah, Takumi Usui, tidak sengaja memergokinya tengah memakai seragam maid.
Mulai saat itu, hubungan mereka berubah menjadi permainan kucing dan tikus yang menegangkan. Sang ketua OSIS yang perfeksionis harus menjaga gengsinya agar tidak hancur, sementara si cowok jenius itu justru memanfaatkan situasi untuk terus menggoda dan mendekatinya.
Konflik batin dan komedi romantis pun tak terelakkan di antara keduanya. Apakah ia mampu mempertahankan posisinya sebagai pemimpin yang disegani, atau justru kepribadian aslinya yang lembut akan luluh oleh perhatian tak terduga dari si cowok misterius itu?
Edo kini dilanda kekacauan saat para samurai harus menatap cermin diri atas segala kekonyolan masa lalu. Genre komedi aksi ini membawa penonton ke sesi refleksi mendalam yang penuh dengan tawa pahit, satir tajam, dan absurditas khas yang tak pernah gagal.
Sang protagonis berambut perak, Gintoki Sakata, terpaksa berhadapan dengan dosa-dosa masa lalunya yang memalukan. Ditemani oleh Shinpachi Shimura yang selalu mengeluh, ia mencoba mencari makna di balik segala kekacauan yang mereka ciptakan sendiri.
Di sisi lain, Kagura hadir sebagai pemecah suasana yang semakin memperkeruh keadaan dengan tingkahnya yang tak terduga. Ikatan mereka di Yorozuya diuji saat bayang-bayang kegagalan masa lalu datang menuntut pertanggungjawaban dengan cara yang amat lucu.
Muncul pula Hijikata Toushiro yang mencoba menegakkan ketertiban di tengah anarki mental para karakter, meski ia sendiri kewalahan dengan egonya. Konflik batin ini menjadi panggung utama bagi mereka untuk saling berdebat tentang jati diri seorang samurai.
Puncak kegilaan terjadi ketika mereka harus menuntaskan evaluasi diri demi menyelamatkan masa depan Edo. Tema persahabatan dan keberanian untuk mengakui kebodohan menjadi inti emosional yang menyentuh, dibalut dengan kekonyolan tanpa henti yang sangat ikonik.