Dunia berubah menjadi neraka dalam sekejap ketika wabah misterius mengubah manusia menjadi mayat hidup yang haus darah. Sekolah yang damai berubah jadi medan tempur berdarah. Siswa harus berjuang bertahan hidup di tengah kekacauan kiamat zombi ini.
Takashi Komuro terpaksa memimpin pelarian bersama teman masa kecilnya, Rei Miyamoto. Di tengah teror, mereka bertemu Saeko Busujima, ahli pedang yang tenang namun mematikan, yang menjadi pilar kekuatan tim dalam menghadapi mayat hidup.
Kelompok mereka juga diperkuat oleh Saya Takagi yang jenius serta Kohta Hirano, seorang fanatik senjata api. Dinamika emosional di antara mereka sangat intens, di mana trauma dan cinta segitiga mewarnai setiap langkah pelarian yang sangat mematikan.
Shizuka Marikawa, sang perawat sekolah yang ceroboh namun penuh kasih, turut menjaga moral mereka tetap stabil. Meski perbedaan kepribadian sering memicu konflik internal, mereka dipaksa bersatu demi satu tujuan yaitu mencari tempat paling aman.
Situasi makin mencekam saat kemanusiaan mulai memudar, di mana manusia bisa menjadi lebih kejam daripada zombi. Mereka harus terus beradaptasi, mengasah kemampuan tempur, dan menjaga kewarasan sebelum kegilaan dunia benar-benar menelan jiwa mereka selamanya.
Dunia seni yang tenang dan penuh warna menunggu untuk dijelajahi dalam kisah slice of life ini. Mengikuti keseharian sekelompok siswa yang mencari makna di balik kanvas, anime ini menyajikan keindahan dalam hal-hal kecil yang sering terlupakan oleh mata dunia.
Sosok pemalu bernama Sora Kajiwara perlahan keluar dari zona nyaman saat bergabung dengan klub seni sekolah. Meski awalnya canggung dan pendiam, ia mulai menjalin persahabatan yang tulus dengan teman-temannya di tengah hiruk-pikuk aktivitas ekstrakurikuler.
Kehadiran Mari Kurihara yang ceria menjadi penyeimbang bagi sifat Sora yang tertutup. Persahabatan mereka diwarnai dinamika unik, di mana perbedaan kepribadian justru menciptakan harmoni yang mendukung pertumbuhan emosional setiap anggota klub saat melukis.
Tantangan muncul saat Hazuki Kuga dan anggota lainnya harus menghadapi tugas-tugas kreatif yang menguji keberanian berekspresi. Konflik batin tentang bakat dan kepercayaan diri sering kali menghambat langkah mereka untuk menuangkan imajinasi ke atas kertas kosong.
Melalui goresan sketsa, mereka belajar memahami perasaan dan dunia di sekitar. Apakah mereka mampu menemukan jati diri di balik setiap warna? Inilah perjalanan menyentuh hati tentang persahabatan, eksplorasi diri, dan bagaimana seni menyatukan jiwa-jiwa muda.