Berlatar Jepang era 1920-an yang penuh gejolak, film ini menyajikan drama sejarah yang emosional dan puitis. Kisah ini mengikuti perjuangan untuk menggapai mimpi di tengah kehancuran ekonomi, gempa bumi besar, hingga bayang-bayang perang dunia yang kian mencekam.
Sejak kecil, Jiro Horikoshi terobsesi pada keindahan pesawat terbang meski penglihatannya terbatas. Ia bertekad menjadi insinyur hebat di tengah zaman yang tidak menentu. Ambisinya membawanya pada tantangan teknis yang berat serta tuntutan ekspektasi industri.
Di tengah tekanan karier, ia bertemu dengan Nahoko Satomi, sosok wanita yang memikat hatinya lewat momen tak terduga. Hubungan mereka tumbuh dengan penuh ketulusan, namun dibayangi oleh kondisi kesehatan yang sangat rapuh dan sulit untuk disembuhkan segera.
Bagi sang insinyur, merancang mesin terbang adalah wujud cinta pada keindahan, sementara bagi sang kekasih, hidup adalah perjuangan untuk tetap bernapas. Keduanya berusaha merajut kebahagiaan di tengah konflik batin antara mengejar obsesi pribadi dan tanggung jawab sosial.
Seberapa jauh seseorang sanggup mengorbankan segalanya demi mewujudkan impian terbesar dalam hidup? Di tengah badai angin perubahan yang kencang, mereka harus memilih antara kejayaan karier yang gemilang atau kehadiran orang tersayang yang kian memudar setiap harinya.
Dunia kuliner yang manis dan penuh warna menanti bagi mereka yang berani bermimpi. Akademi St. Marie menjadi saksi perjuangan gadis remaja yang ingin menggapai cita-citanya menjadi seorang pembuat kue profesional yang mampu membuat setiap orang tersenyum.
Ichigo Amano adalah gadis ceroboh yang merasa tidak memiliki bakat apa pun. Namun, pertemuannya dengan seorang guru pastry mengubah segalanya. Ia pun mendaftarkan diri ke sekolah kuliner demi mengikuti jejak sang nenek yang sangat dikaguminya.
Di sana, ia bertemu dengan para pangeran manis, yaitu Kashino Makoto, Hanabusa Satsuki, dan Andou Sennosuke. Bersama Vanilla, sang roh kue, mereka membentuk tim untuk berkompetisi dalam tantangan memasak yang sangat ketat.
Konflik mulai muncul saat perbedaan gaya dan ego masing-masing anggota tim sering berbenturan. Ichigo harus belajar menghadapi tekanan, rasa tidak percaya diri, serta tantangan dari saingan yang selalu ingin menjatuhkan posisinya di akademi bergengsi itu.
Persahabatan mereka diuji saat harus menciptakan karya seni kuliner yang sempurna demi meraih gelar terbaik. Di balik tumpukan cokelat dan krim, mereka belajar bahwa bahan paling penting untuk menciptakan kebahagiaan sejati hanyalah ketulusan hati.