Keluarga Matsuno yang kacau kembali beraksi dalam komedi absurd yang mengocok perut. Enam bersaudara kembar identik yang kini sudah dewasa ini memutuskan untuk menjalani hidup sebagai NEET pemalas, menolak tanggung jawab dunia kerja demi kesenangan diri.
Sang pemimpin, Osomatsu, selalu menjadi otak di balik kebodohan mereka. Dia dikelilingi oleh adik-adik dengan kepribadian ekstrem; Karamatsu yang narsis, Choromatsu si penggemar idol, dan Ichimatsu yang selalu terlihat murung serta antisosial.
Kekacauan semakin memuncak dengan kehadiran Jyushimatsu yang hiperaktif dan Todomatsu, si bungsu yang licik dalam bersosialisasi. Persaingan konyol sering terjadi saat mereka berusaha memperebutkan perhatian, uang, atau sekadar membuktikan siapa yang paling payah.
Hubungan mereka penuh dengan ejekan tajam namun menyimpan ikatan persaudaraan yang aneh. Mereka terus terjebak dalam masalah yang diciptakan sendiri, menghadapi krisis eksistensial dengan cara yang sangat tidak terduga, bodoh, sekaligus menantang norma sosial.
Serial ini mempertanyakan arti kedewasaan di tengah dunia modern yang keras. Dengan humor satir yang berani dan situasi surealis, enam bersaudara ini mengajak penonton tertawa melihat kegagalan hidup yang dikemas menjadi petualangan sangat berantakan.
Kisah komedi absurd ini membawa enam bersaudara Matsuno menghadiri reuni SMA yang justru menjadi ajang rasa minder. Saat melihat teman-teman mereka sudah menjadi orang sukses dan dewasa, mereka merasa tertinggal jauh dalam perlombaan kehidupan yang nyata.
Osomatsu sebagai kakak tertua merasa frustrasi dengan ketidakmampuan adik-adiknya beradaptasi. Hubungan mereka yang biasanya penuh lelucon kini menegang karena rasa iri, membuat mereka mabuk dan terlempar ke masa lalu lewat memori yang sangat kacau.
Di masa sekolah, Karamatsu yang penuh percaya diri, Choromatsu yang cemas, Ichimatsu yang menyendiri, Jyushimatsu yang hiperaktif, serta Todomatsu si licik bertemu dengan versi diri mereka sendiri yang jauh lebih polos dan jujur.
Pertemuan lintas waktu ini memicu kekacauan besar saat mereka mencoba mengubah masa lalu demi masa depan yang lebih baik. Namun, mereka segera sadar bahwa mencampuri takdir bukanlah hal mudah, apalagi dengan sifat asli mereka yang sangat malas dan berantakan.
Dinamika antara masa lalu dan masa kini menguji ikatan persaudaraan mereka di tengah kegilaan situasi. Apakah mereka sanggup menerima kenyataan pahit tentang diri sendiri demi menemukan arti kedewasaan yang sebenarnya di balik tawa dan air mata ini?