Musim kelulusan tiba bagi grup musik sekolah yang ceria ini. Sebelum berpisah jalan, mereka merencanakan sebuah perjalanan liburan seru ke London. Suasana komedi slice-of-life ini akan membawa penonton melihat sisi lain dari persahabatan mereka di luar sekolah.
Vokalis sekaligus gitaris yang ceroboh, Yui Hirasawa, memimpin rekan-rekannya dengan semangat tinggi. Bersama Mio Akiyama yang pemalu namun perfeksionis, mereka berusaha menyeimbangkan sisa waktu sebelum ujian akhir dan kelulusan yang kian mendekat.
Tak ketinggalan, Ritsu Tainaka yang enerjik terus memicu kekacauan lucu, didampingi Tsumugi Kotobuki yang selalu tampil anggun meski terjebak dalam rencana liburan yang agak konyol. Dinamika persahabatan mereka akan diuji dalam lingkungan baru.
Sementara itu, Azusa Nakano sebagai anggota termuda merasa cemas dengan masa depan grup setelah seniornya lulus. Ia mencoba menikmati waktu tersisa sambil memikirkan bagaimana caranya agar ikatan musik mereka tetap terjaga meski jarak memisahkan nanti.
Ketegangan muncul saat mereka mencoba menulis lagu perpisahan yang spesial. Di tengah keindahan kota London, mereka harus merangkai melodi dari hati untuk merayakan momen berharga yang tak akan terulang, mencerminkan makna sejati dari ikatan persahabatan.
Dunia modern yang kelam kini mencekam bagi para kaum Attractors, mereka yang lahir dengan kemampuan super dan terus diburu oleh organisasi Order. Di tengah keputusasaan, perlawanan bawah tanah berjuang demi hak hidup serta kebebasan rekan mereka yang tertindas.
Quon muncul sebagai sosok penyelamat yang penuh misteri, memimpin kelompok pemberontak dengan karisma yang kuat. Ia menjalin ikatan mendalam dengan rekan-rekannya, berusaha melindungi mereka dari eksperimen kejam yang dilakukan pihak otoritas tanpa henti.
Kiri berdiri teguh di sisi sahabatnya, membawa beban moral yang berat di tengah pertempuran sengit melawan robot-robot maut. Hubungan mereka diuji saat kebencian Order terhadap kaum mutant semakin menggila, memaksa mereka harus menentukan pilihan sulit.
Sementara itu, Kamishiro terjebak dalam dilema antara tugas sebagai pelaksana dan sisi kemanusiaannya. Konflik batin ini menciptakan jurang pemisah yang berbahaya, mengancam kestabilan kelompok saat mereka berusaha mempertahankan sisa-sisa harapan yang ada.
Pertempuran klimaks pun pecah, menguji tekad setiap individu dalam menghadapi takdir yang tampak mustahil. Di balik kekacauan ini, pencarian jati diri serta makna kebebasan menjadi inti drama yang menyayat hati bagi siapa pun yang berani melawan arus penindasan.