Berlatar di Hiroshima saat Perang Dunia II, drama sejarah ini mengisahkan keseharian yang perlahan berubah mencekam. Fokusnya adalah pada ketangguhan manusia di tengah kehancuran global, menyajikan potret hidup yang terasa nyata, intim, dan sangat mengharukan.
Suzu Urano adalah gadis muda yang naif dan gemar melukis. Ia pindah ke Kure setelah dipinang oleh pria asing bernama Shusaku Hojo. Kehidupan rumah tangga baru ini menuntutnya untuk beradaptasi dengan lingkungan serta tanggung jawab yang berat.
Di balik kepribadiannya yang ceria, ia harus menghadapi tekanan dari kakak iparnya, Keiko Kuromura, yang cukup dingin. Hubungan mereka penuh dengan kecanggungan, mencerminkan ekspektasi sosial yang kaku terhadap peran seorang istri di masa penuh ketidakpastian.
Saat ancaman bom semakin mendekat, ia berjuang menjaga keutuhan keluarganya. Kegigihannya diuji melalui kelangkaan pangan dan serangan udara yang tiada henti. Ia terus berusaha menemukan kebahagiaan kecil di tengah dunia yang perlahan hancur karena peperangan.
Ketabahan karakter utama dalam menghadapi kehilangan menjadi inti dari perjalanan emosional yang mendalam. Kisah ini mengeksplorasi betapa berharganya setiap momen kedamaian meski harus bertahan hidup di bawah bayang-bayang masa depan yang gelap dan sangat tragis.
Musim festival sekolah akhirnya tiba dan suasana menjadi semakin meriah di SMA. Bagi para gadis ini, ajang budaya adalah momen krusial untuk menunjukkan kekompakan mereka. Persiapan dekorasi dan naskah drama panggung pun mulai menyita perhatian penuh.
Shinobu Omiya yang sangat antusias mendapati dirinya harus berjuang keras menyusun naskah drama untuk kelasnya. Dia tidak sendirian karena kehadiran sahabat-sahabatnya memberikan dukungan moral sekaligus tekanan baru di tengah kesibukan yang padat.
Alice Cartelet sebagai teman dekat yang penuh perhatian selalu mencoba membantu, namun kecemburuan mulai muncul saat perhatian sahabatnya terbagi. Dinamika hubungan yang hangat ini diuji ketika tenggat waktu semakin dekat dan tugas makin menumpuk.
Sementara itu, Aya Komichi dan Yoko Inokuma berusaha menengahi ketegangan di antara teman-temannya. Mereka sadar bahwa kebersamaan bukan sekadar proyek sekolah, melainkan tentang menjaga ikatan persahabatan yang tulus agar tetap terjaga utuh.
Karen Kujou pun ikut ambil bagian dengan segala tingkah uniknya yang mencairkan suasana kaku. Persahabatan lintas budaya ini harus menghadapi tantangan kreativitas demi menciptakan kenangan tak terlupakan sebelum festival resmi dimulai bagi mereka.