Rutinitas kantor yang menjemukan kembali menghantui Retsuko, seekor panda merah yang harus menahan amarah setiap hari. Di balik penampilan sopan dan dedikasi kerjanya, ia menyimpan sisi liar berupa hobi karaoke death metal yang sangat meledak-ledak.
Hidupnya semakin rumit saat sang ibu datang berkunjung, membawa tekanan baru tentang pernikahan. Belum lagi kehadiran Tadano, seorang pengusaha muda nan karismatik yang membuat jantungnya berdebar kencang, memicu dilema emosional yang sangat menguras pikiran.
Keseharian Fenneko yang sinis terus mengawasi gerak-gerik Retsuko dengan kecerdasan observasinya. Di tengah kekacauan kantor, konflik antara keinginan untuk mandiri dan tuntutan sosial menjadi beban berat yang memaksa Retsuko untuk berani melangkah maju.
Kehadiran rekan kerja seperti Haida yang selalu setia mendukung, justru menambah kerumitan perasaan yang selama ini ia pendam. Setiap interaksi di antara mereka mencerminkan perjuangan nyata orang dewasa dalam mencari kebahagiaan serta jati diri sesungguhnya.
Apakah Retsuko mampu menyeimbangkan ekspektasi orang lain dengan ambisi pribadinya? Musim ini menyuguhkan komedi satire tajam tentang duka di dunia kerja, dinamika hubungan romantis, serta keberanian untuk berteriak lantang melawan ekspektasi dunia yang sangat kejam.
Dunia seni lukis yang kompetitif menjadi panggung utama dalam drama psikologis penuh gairah ini. Kehidupan para seniman muda yang terjebak dalam obsesi murni serta ambisi gelap untuk menciptakan karya agung yang bisa mengguncang jiwa penikmatnya di seluruh dunia.
Seorang pelukis jenius bernama Takashi hidup dalam keterasingan kreatif demi mengejar kesempurnaan. Ia bertemu dengan Yui, seorang model misterius yang memicu gejolak emosi sekaligus konflik batin saat mereka berusaha melampaui batas realitas.
Hubungan mereka yang rumit semakin memanas akibat kehadiran Masato, rival bebuyutan yang ingin menghancurkan reputasi Takashi dengan segala cara. Persaingan ini bukan sekadar soal teknik, melainkan pertarungan ego dan obsesi yang mulai mengaburkan logika.
Setiap goresan kuas membawa mereka ke dalam pusaran depresi dan euforia yang mencekam. Tekanan mental kian meningkat saat mereka harus memilih antara kejujuran artistik atau pengakuan publik yang dangkal, membawa karakter terjebak dalam sisi gelap dunia seni.
Ketegangan memuncak ketika pameran besar semakin dekat dan rahasia masa lalu perlahan terungkap. Mereka harus menghadapi trauma terdalam guna menuntaskan mahakarya yang akan menentukan nasib sekaligus masa depan hubungan mereka yang sangat rapuh dan berbahaya.